Tenggelam dalam Dinginnya Bromo

Entah sudah keberapa puluh kalinya saya memegang ponsel sambil mengamati jam. Baru berubah dua hingga lima menit dari selang terakhir saya melihatnya. Pfft. Saya memandang sekeliling dan melihat dua teman tertidur pulas di sebelah saya. Begitu juga dengan teman-teman yang berada di kamar lain, diam tak bersuara. Bisa tidur pastinya. Saya sendiri yang mengutuki diri kenapa tak bisa ikutan tidur nyenyak padahal badan terasa letih plus ngantuk berat. Sudah mencoba beberapa posisi, miring ke samping kanan, samping kiri, telungkup, terlentang, sampai setengah duduk agar bisa merem dengan nyaman. Tapi, dingin di Bromo ini benar-benar membunuh saya.

Memakai pakaian lapis tiga plus jaket, sarung kaki, sarung tangan, dan penutup kepala masih tak jua sanggup mengusir dingin yang saya rasakan. Tersiksa sekali. Mending bangun saja kalau begini kondisinya. Namun entah bagaimana akhirnya saya bisa melewati siksaan itu, mungkin terlalu capek mengutuki diri hingga jatuh tertidur, tau-tau beberapa teman sudah bangun dan beraktivitas. Sudah waktunya kami bersiap-siap untuk menjemput sunrise di Penanjakan.

Saya kembali bertempur dengan dinginnya Bromo di kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka karena mandi jelas bukanlah opsi bijaksana:p Jangan tanya bagaimana dinginnya air di sana. Dengan bergegas saya melakukan aktivitas tersebut dan siap bergabung dengan yang lain di depan penginapan menunggu jeep yang akan membawa kami ke Penanjakan 1.

Agak tak umum memang, karena meski ongkos sewa jeep lebih mahal, kebanyakan pengunjung di Bromo lebih memilih menyaksikan sunrise dari Penanjakan 2 yang medannya lebih enak dijangkau. Hanya butuh jalan kaki sebentar ketimbang via Penanjakan 1 yang lebih jauh. Soal view, kata yang sudah pernah ke Penanjakan 1 dan 2, sebenarnya sama-sama indah. Tapi dasar orang Indonesia, malas jalan jauh. Jadilah Penanjakan 2 sedikit lebih ramai ketimbang Penanjakan 1.

Dan benar saja, Jeep berhenti di sebuah lokasi yang gelap dan sepi. Katanya, itu spot terakhir sebelum kami memulai jalan kaki menuju puncak Penanjakan 1. Sebelumnya saya tak membayangkan lokasinya seperti itu. Tapi teman yang sudah pernah menyaksikan sunrise via Penanjakan 1 membenarkan, bahwa memang tak banyak pengunjung yang memilih jalur ini sehingga relatif sepi. Namun, teman-teman yang lain meragukan. Akhirnya kami terpaksa menambah ongkos sewa jeep dan berbalik selanjutnya menuju Penanjakan 2.

Dengan terseok-seok melawan dinginnya subuh itu saya melangkahkan kaki ke puncak Penanjakan 2. Dinginnya Bromo malam-subuh itu memang luar biasa dan nggak santai sama sekali! Padahal sewaktu saya mendaki kaldera Bromo pada sore hari hingga menjelang magrib, saya santai-santai saja. Hanya berbekal syal tipis yang saya lilitkan dan tanpa mengenakan jaket. Namun usai makan malam di sebuah warung, rasa dingin mulai menyergap.

Terakhir kali saya merasakan dingin seperti itu saat berada di Dieng, hampir tiga tahun lalu. Ketika bermotor jelang magrib pada waktu itu, tulang-tulang terasa ngilu hingga tubuh bergetar tanpa sadar. *klik di sini untuk ceritanya* Yaah maklum, saya ini anak pantai bukan anak gunung. So agak sensi gitu kalau berurusan dengan suhu dingin. Sayang saat di Bromo lalu saya tak tahu berapa derajat suhunya gara-gara gadget dengan aplikasi temperature nggak dapat sinyal terus he he he. Ya sudah, tak masalah toh sudah jelas saya kedinginan. Tak perlu bukti berapa derajat suhunya.

Well, meski kedinginan, tak sampai menganggu menikmati indahnya Bromo. Sebaliknya, dalam dekapan dingin Bromo saya bisa merasakan kedahsyatan Bromo yang mengundang begitu banyak pelancong. Apalagi, ada kehangatan persahabatan dengan teman-teman seperjalanan kali ini. Di luar boleh dingin, tapi hati tetap hangat karena penuh dengan suka cita dan keriangan bisa menginjakkan kaki di salah satu destinasi wisata populer di negeri ini 🙂

 

Tips
*Jika memang tak tahan dengan suhu dingin, bekali dengan membawa perlengkapan anti dingin. Jaket, syal, penutup kepala, sarung tangan dan kaki. Kalau punya earmuff alias penutup telingan yang kiut, pake aja sekalian buat gegayaan. Berasa di Korea ato Jepang wkwkwk
*Kalau pas naik ke kaldera Bromo mengenakan sandal atau sepatu sandal, ada baiknya memakai kaos kaki untuk menghindari kena pasir dan tanah yang bercampur dengan kotoran kuda.

Advertisements