Duo Edan: Episode JLS Jatim

Menulis untuk mengobati rindu akan sensasi berkendara di atas roda dua bersama bapak tersayang:)

Setelah merasakan rute jalur lintas selatan (JLS) ke arah barat, tepatnya menuju Pangandaran, perjalanan kali ini kami arahkan ke JLS arah timur. Kota tujuan kami adalah Blitar. Seperti biasa, sampai di kota tujuan bukanlah inti dari perjalanan yang kami lakukan, melainkan ‘perjalanan’ itu sendirilah yang menjadi pengalaman.

Dalam setiap perjalanan yang kami lakukan sudah seperti menjadi suatu kebiasaan bagi bapak untuk tidak memilih jalur aman alias jalur normal atau jalur ‘biasa’. Yang dipilih bapak biasanya rute-rute baru yang terlintas di pikirannya. Membuka peta, dicermati, langsung diterapkan.

Improvisasi jelas diperlukan dalam melakoni perjalanan model begini. Kalau sudah begitu, sebagai duo patnernya saya harus punya kesabaran ekstra. Salah jalan, musti bertanya berulang kali dengan penduduk lokal sudah menjadi makanan biasa. Mungkin bagi kebanyakan orang perjalanan seperti ini tak ada nikmatnya. Sudah naik motor, panas, kena debu, dan pastinya melelahkan.. Namun disinilah sensansinya. Bagi saya bisa melihat daerah ‘baru’ dengan cara yang lain terasa luar biasa.

JLS khususnya di wilayah Jawa Timur tampaknya begitu menggoda bapak.  Keinginan itu sudah lama dipendamnya dan baru Agustus tahun lalu kami berhasil mengarahkan roda-roda motor kami kesana (maaf ini cerita perjalanan yang sudah lama wkwkw). Bapak menghubungi sepupunya yang berada di Blitar, dan memutuskan Blitar menjadi tujuan akhir perjalanan kami.

Rute kami saat itu bisa diringkas seperti ini: Purworejo-Kulon Progo-Bantul-Wonogiri-Pacitan-Trenggalek-Tulungagung-Blitar PP. Harap dicatat, hanya rute Tulungagung-Blitar yang kami tempuh melalui jalan normal karena ketika itu JLS di antara dua kota tersebut belum jadi dan dalam kondisi rusak parah. Rute lainnya kami tempuh melewati JLS.

Day 1
Berangkat dari rumah-KP-Bantul-Wonogiri. Nyaris tak ada hambatan berarti karena medan sudah dikenal plus jalan halus rata dan terbilang sepi. Kendala utama justru rasa ngantuk yang tak tertahankan he he he Berhenti sebentar di Pantai Siung, KP. Selepas Wonigiri kemudian menuju Pacitan melalui Giribelah-Giritontro-Punung. Makan siang, kemudian mampir wisata di Goa Gong dan Pantai Teleng Ria, Pacitan.

Melanjutkan perjalanan menuju Trenggalek melalui Sidomulyo-Hadiwarno. Daerah yang benar-benar baru bagi kami. Medannya? wow jangan ditanya. Amazing! naik turun membelah bukit, jalan sempit, rusak parah bahkan ada pula yang aspalnya sudah hilang, bener-bener menguras energi teramat sangat.

Tapi suatu ketika, kami melewati sebuah pemandangan yang luar biasa. Sayangnya saya tak tau tepatnya lokasinya berada di kecamatan mana. Laut seakan berada persis di ‘depan’ kami dengan jalanan aspal lebar mulus dan kami seolah berada di tengah bukit yang baru saja ‘dibelah’. Mantab pokoknya. Ilang deh semua capek2 wkwkwkw

Hari beranjak senja, dan kami beruntung menemukan hotel oke untuk ukuran kecamatan. Hebatlah, di kecamatan ada sebuah penginapan… Namanya Hotel Surya Dharma letaknya di Kecamatan Ngadirojo. Waktu itu kami pilih kamar yang ratenya 80 ribu/malam. Cukup baik fasilitasnya. Aaaah akhirnya bisa meluruskan kaki juga…

Day 2
Jika dipikir perjalanan dari Pacitan sebelah barat ke Pacitan sebelah timur sudah cukup berat, ternyata, itu belum ada apa-apanya dibanding perjalanan dari hotel hingga Tulungagung. Gila. Pacitan-Trenggalek via Kecamatan Sudimoro-Kecamatan Panggul bener-bener luaarrr biasa. Ditambah, Trenggalek-Tulungagung melewati Kampak-Munjungan yang teramat sangat tak terduga! Tak bisa terlukiskan dengan kata-kata pokoknya. Total delapan jam kami butuhkan untuk sampai ke Blitar dari hotel. Padahal, jika melewati rute normal, jelas tak akan selama itu. Tapi, di rute normal itu tak akan didapati pesona JLS seperti yang kami lihat…

Kami sering menjumpai pemandangan mempesona. View pantai di sebelah kanan kami terkadang mengejutkan. Apalagi daerah yang kami lewati terbilang sepi, hhmmm bisa untuk sedikit melamun sambil istirahat sembari ‘mendinginkan’ mesin motor. Saya menangisi satu hal disini. Apa itu? hehehe tak punya kamera oke, jadi tak bisa mengabadikan view sebanyak dan sebagus mungkin. Sayang sekali… 😦

Well, kondisi tubuh ada batasnya. Untuk sampai Blitar kami pun lebih memilih melintasi jalur normal dari Tulungagung. *kami sempat menyaksikan dari ketinggian PLTU Sudimoro, serta menikmati Pantai Pelang, Trenggalek.

Day 3
Waktunya keliling Blitar! Sepupu bapak mengajak kami berkeliling Blitar. Okelah, siapa takut hehehe. Tujuan pertama kami ke Gunung Kelud. Yihaaaa… Sampai disana juga akhirnya. Agak aneh perjalanan kesini. Alasannya, dalam benak saya yang namanya ‘gunung’ pasti akan terlihat dari jauh. Lha kok ini sampe dekat pun tak terlihat ‘gunungnya’ wakaaakaaa.. Asyiknya, jalan ke TKP sangat bagus. Mulus dan rata meski tanjakan dan tikungannya perlu diwaspadai…

Oya, sudah tau mengenai fenomena unik di jalan menuju Gunung Kelud ini? di suatu jalan disana ada papan bertuliskan ‘Mysterious Road’. Katanya sih, meski dengan gigi netral alias gigi 0, mobil atau pun motor bisa bergerak sendiri tanpa kita gas. Wah jelas saja langsung saya praktikkan. Ya gitu deh.. motor bisa maju sendiri meski tanpa saya gas dan di posisi gigi 0, padahal kondisi jalanan terbilang lurus alias tidak menurun gitu.. aneh juga. Menikmati Gunung Kelud bersama bapak dan pakde terasa menyenangkan. Maklum beliaunya sudah sepuh-sepuh, jadinya semua dilakukan dengan santai abiss..

Turun dari Gunung Kelud, kami menuju Candi Penataran. Tak masuk ke dalam lokasi wisatanya, karena dari ‘luar’ saja sudah bisa melihat candi paling terkenal di Blitar itu. Motor terus kami pacu, kali ini giliran mendatangi Kompleks Makam Bung Karno. Sudah agak sore saat kami tiba disini. Perpustakaan serta museum yang berada di kompleks makam pun hampir tutup. Sayang sekali sehingga kami belum bisa banyak melihat-lihat koleksi disitu. Di salah satu koleksi museum, ada sebuah lukisan Bung karno yang ‘hidup’. Dikatakan hidup, karena di lukisan bagian jantung konon ada detaknya yang bisa terlihat mata sedang berdenyut gitu. Hehehe tapi sewaktu saya mengamatinya, kok  tidak bisa melihat denyutnya itu ya..

Day 4
Waktunya pulang ke rumah. Kepulangan kami tak melewati rute sama seperti saat kami berangkat. Jadi kami mengambil rute Tulungagung langsung Pacitan. Sesampainya di Pacitan, saya setengah memaksa bapak untuk menjelajah pantai-pantai selatan di kawasan itu. Jadilah kami menikmati Pantai Watukarung yang bagus banget, Pantai Klayar yang mahsyur itu, serta agak kesana lagi, Pantai Nampu. Pantai terakhir yang saya sebutkan tadi sudah berada di wilayah Wonogiri.

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sadeng, Bantul, tetap via JLS. Kami juga sempat menikmati objek wisata ‘teraneh’ yakni Situs Bengawan Solo Purba. Paling tidak, seperti itu yang tertulis di papan yang berada di pinggir jalan. Tapi pastinya TKPnya yang di sebelah mana, dan bagaimana asal mula tempat itu sehingga bisa dianggap sebagai situs Bengawan Solo purba, sama sekali tak ada informasi yang bisa membantu menjelaskannya. Bagi orang awam seperti kami, akhirnya pun hanya bisa menduga-duga sendiri. Fiiuh, sayang, mengingat lokasinya terbilang asyik. *merindu pariwisata kita diurusi dengan lebih serius.

Setelah itu kami pun menuju Wonosari dan setelah menikmati makan malam disana, kami langsung memacu motor menuju rumah.  Perjalanan selama hampir 14 jam kami tempuh hingga akhirnya kami sampai di rumah, dengan selamat. Thanks God. What a long and nice journey!! 😀

Advertisements