Last Chance Saloon

Katherine, Tara, dan Fintan adalah tiga sahabat semenjak belia. Ketiganya berasal dari kota kecil Knockavoy di Irlandia dan memutuskan hijrah ke London bersama-sama saat usia mereka dua puluh tahunan. Karakter yang berbeda satu sama lain justru membuat mereka saling melengkapi dan persahabatan mereka kokoh.

Pada usia 31 tahun, setelah melewati berbagai masa suka dan duka bersama, persahabatan diantara mereka diuji. Tak cukup hanya persahabatan yang dipertaruhkan, ujian itu ternyata juga membuka luka lama dan menguji ketiganya untuk mengubah hidup mereka. Sanggupkah mereka bertahan dan mengatasinya bersama?

Siapa menduga jika penyakit kanker yang diidap Fintan mengubah hidup mereka. “Kau harus meninggalkan Thomas,” kata Fintan pada Tara. “Dan kau Katherine, carilah seorang laki-laki untukmu,” ucap Fintan pada Katherine. Berawal dari permintaan ‘terakhir’ Fintan itulah katherine dan Tara berjuang mengalahkan ketakutan terbesar mereka.

Tara, wanita yang senang makan dan mengaku tak bisa hidup tanpa kekasih. Waktu terlamanya tanpa kekasih hanya dua minggu. Ketakutannya hidup dengan status single di usianya yang sudah kepala tiga membutakan akal sehatnya. Baginya, saat ini adalah her last chance saloon, kesempatan terakhirnya. Tak ada waktu lagi untuk kembali menjalin hubungan mulai awal.

Selama dua tahun terakhir Tara menjalin hubungan dan tinggal bersama Thomas, pria yang sama sekali tak menghargai dan menghormatinya. Sahabat-sahabat Tara telah mengingatkan betapa tak pantasnya Thomas baginya, namun Tara bergeming. Ketakutannya ditinggal Thomas dan menjadi lajang di usia 31 tahun melebihi apapun hingga dia rela mendapat perlakuan kasar dan penghinaan dari Thomas.

Katherine, wanita dengan pekerjaan dan penghasilan mapan. Pecinta kebersihan, wanita dengan tipikal tenang, anggun, dan sopan, lebih menyukai remote control televisi dibanding pria. Saking cueknya terhadap pria, ia dijuluki ratu es oleh teman sekantornya. Di balik sikap dinginnya itu ternyata Katherine menyimpan masa lalu suram. Dia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah di sisinya. Dibesarkan oleh ibu yang liar, kerap bergonta-ganti pasangan. Pada usia 19 tahun Katherine dihamili dan ditinggal kabur oleh pria yang ia anggap sebagai kekasihnya.

Permintaan Fintan itu kontan membuat Tara dan Katherine kelabakan. Pada awalnya mereka menolak dan menganggap permintaan itu tak masuk akal. Lucunya, Katherine menganggap permintaan Fintan terhadap Tara adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan sebaliknya, Tara juga beranggapan demikian. Tak ayal hal itu memicu perdebatan justru diantara Tara dan Katherine.

Menurut saya, inti dari chickLit Last Chance Saloon ini adalah bagaimana kita mengisi hidup dengan hal-hal terbaik yang bisa kita lakukan karena kita tak akan hidup selamanya. Fintan, yang merasa hidupnya tak lama lagi melihat dua sahabat yang dikasihinya itu tak bahagia dengan hidupnya selama ini. Dia mendorong Katherine dan Tara agar berani keluar menantang hidup dengan menghadapi ketakutan maupun masa lalu mereka selama ini dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan kebahagiaan.

Dari yang awalnya kesal, marah, dan gengsi karena kelemahan mereka dibongkar begitu rupa, juga ketakutan akan apa yang akan terjadi jika Tara dan Katherine benar melakukan permintaan Fintan, keduanya akhirnya membuka mata dan memahami keinginan Fintan.

Kesempatan Terakhir

Saya suka Last Chance Saloon ini. Ceritanya cukup realistis dengan karakter tokoh-tokohnya yang terkesan membumi. Endingnya pas, tidak lebai. Saat membaca chickLit ini saya merasa seperti menonton sebuah film layar lebar. Saya merasa buku ini mirip dengan film Love Actually. Ada beberapa bagian cerita disana dengan main characternya sendiri-sendiri.

Gaya penulisan yang dipilih Marian Keyes ini seakan memperkuat itu; menggunakan model bercerita, dari sudut pandang orang ketiga. Malah dilengkapi dengan semacam ‘narasi’ berisi penjelasan. Awalnya terasa agak janggal dengan penulisan seperti itu. Sebagai jurus antibosan, Marian Keyes menyisipkan kisah-kisah masa lalu para tokoh dan mengajak pembaca kembali ke beberapa tahun silam. Juga adanya cerita mengenai tokoh-tokoh lain yang membuat penasaran, apa sebenarnya kaitan mereka dengan tiga tokoh utamanya.

Tak lupa buku ini dibalut dengan nuansa humor dan romantisme yang pas. Asyik banget deh membaca kisah Katherine dan Joe Roth. Terutama saat kencan mereka di Highbury..wkwkw Sayangnya, menurutku cover depan buku ini jelek. Gambarnya agak aneh gitu..

By the way, meski ada anggapan chickLit merupakan bacaan yang remeh, tapi saya suka sekali membaca buku jenis ini. Ya okelah remeh, tapi tetap ada yang bisa kudapatkan tiap kali saya selesai membaca. Last Chance Saloon ini layak dibeli. Apalagi murah meriah, hanya 15 ribu saja dari harga normal 60 ribu. Stoknya masih banyak di Gramedia Slamet Riyadi. Buruan kesana he he he

 

Pengarang: Marian Keyes
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 672 lembar
Cetakan pertama, April 2006

Advertisements

2 thoughts on “Last Chance Saloon

  1. Hai aning!
    terima kasih utk reviewsnya.kemarin aku mau beli buku ini, tp takut ceritanya mengecewakan (kan sayang banget, secara tebalnya lumayan).tp dr ulasanmu kayaknya ini seleraku deh πŸ™‚
    aku jg setuju, cover designnya agak aneh πŸ˜€

    regards

    Like

  2. hai hai… πŸ™‚
    iya beli aja, bagus kok menurutku. di awal emg agak membosankan, tp kalo diikuti terus lama-lama menarik..
    Tengkiu dah mampir yaa. salam πŸ™‚

    Like

Comments are closed.