Don’t Tell My Mother (that I’m in…)

TV show lainnya yang lagi rajin saya tonton, Don’t Tell My Mother (That I’m In…). Ada yang memasukan acara ini dalam kategori travel shows, tapi menurut saya bukan. Don’t Tell My Mother ini lebih mirip serial dokumenter dalam kemasan yang lebih ringan. Meski begitu konten acara ini tetap sarat informasi dan dipastikan kita bisa mengupgrade wawasan melalui acara ini.

Don’t Tell My Mother adalah serial hasil liputan Diego Buñuel yang tayang di saluran National Geographic. Bukan hasil liputan biasa, karena Diego mendatangi negara-negara yang punya reputasi menakutkan. Entah karena sedang dilanda perang, terkenal karena perdagangan narkoba, dikenal masyarakat dunia sebagai negara ‘tertutup’ lantaran dikuasai seorang diktaktor, negara miskin dan penuh carut marut karena pertikaian etnis dan atau agama, seperti Afghanistan, Congo, Colombia, Gaza, Irak, Iran,  Venezuela, dan North Korea.

Diego Buñuel adalah kreator, sutradara, dan host acara ini. Diego, pria warga negara Prancis kelahiran tahun 1975 merupakan cucu sutradara ternama Spanyol, Luis Buñuel. Sebelum menjadi film maker, Diego adalah seorang jurnalis tulen.

Ini sedikit profil Diego seperti diambil dari wikipedia:

Diego received his bachelor’s degree from Northwestern University, majoring in journalism, minoring in politics, and then interned for various newspapers such as the Times Picayune in New Orleans, the San Francisco Examiner, the Saint Louis Post Dispatch, the Miami Herald and the Chicago Tribune before going to work for the Sun Sentinel as lead crime reporter.

In 2000, he did his French military service in Bosnia and was stationed in Sarajevo—which led him to a specialization in war reporting.

Back in France, he started working for the press agency CAPA as a war correspondent. He covered 9/11, the 2001 US intervention in Afghanistan, was embedded with the US Marine Corps in 2003 for a month as his unit traveled from Kuwait to Baghdad. After that he went on to follow the Second Congo War, the 2004 tsunami in Banda Aceh, Indonesia (sudah pernah ke Indonesia rupanya:), Yasser Arafat’s funeral in Ramallah and did a special report on the rise of evangelical Christians in George Bush’s America, among some 50 other news stories.

Setelah wira wiri di negara ataupun daerah berkonflik hampir sepuluh tahun lamanya, Diego menyadari bahwa pemberitaan media di seluruh dunia selama ini, di mana dia juga ikut ambil bagian secara dia itu war correspondent, mengenai negara atau daerah konflik tersebut sering kali hanya pada sisi negatifnya saja.

Diego lantas membuat sebuah pendekatan yang tidak biasa; alih-alih membuat liputan di negara atau daerah berkonflik, Diego mengangkat sisi lain, sisi yang lebih ‘lembut’ dari negara-negara tersebut. Melalui liputannya Diego mengajak masyarakat dunia untuk tidak hanya terfokus pada pemberitaan yang itu-itu saja melainkan membuka mata bahwa di tengah negara yang sedang berkecamuk sekalipun di dalamnya tetap ada kebudayaan, masyarakat, dan aktivitas sehari-hari yang normal, jauh dari konflik itu sendiri.

Itulah keunggulan Don’t Tell My Mother. Disaat yang lain memilih menghindari negara atau daerah konflik, acara ini malah dengan berani masuk, melakukan peliputan, dan mengemasnya menjadi sebuah tontonan yang menarik. Acara ini juga bisa menjadi semacam balance agar kita tak dikenai pemberitaan dari satu sudut pandang saja.

-from fb-

Seperti saat episode Don’t Tell My Mother that I’m in Iran. Setelah menonton acara ini, saya jadi tahu bahwa Iran merupakan negara yang penuh warna, toleransi, dan demokratik, tidak hanya mengenal; Iran adalah negara muslim yang antinegara barat. Diego mengajak pemirsa memasuki ‘area-area’ yang selama ini jarang terekspos media internasional.

Selain islam, di Iran tumbuh dengan subur agama yahudi. Disana Jewish Iranian diberikan kebebasan untuk memeluk keyakinannya dengan aman. Rumah ibadah mereka, sinagog, juga banyak didirikan di Iran. Bahkan kaum minoritas dipastikan senantiasa mendapat kursi di parlemen. Diego berhasil mewawancarai tokoh jewish yang duduk di parlementer, kata tokoh itu: “Hanya Iran yang mati-matian menentang Israel, tapi di sini mereka menginjinkan pembangunan sinagog.”

Ucapan sang tokoh itu bisa menjadi bukti toleransi di Iran yang memang cukup tinggi. Kaum minoritas cukup paham bahwa mereka bebas beribadah dan melakukan aktivitas sehari-hari tetapi tetap ‘di bawah hukum islam’. Diego lantas mengajak ke sebuah toko antik milik seorang Jewish. Di sana banyak dijual barang-barang ‘barat’, termasuk vodka. “Kami bebas minum vodka ini asal kami tidak meminumnya di depan saudara muslim,” begitu ucap sang pemilik toko.

Lain lagi yang dilakukan sekelompok pemuda. Musik rap jelas budaya barat, sesuatu yang dilarang di Iran. Tapi mereka seakan tak menggubris hal itu dengan terus mengembangkan musik rap ‘bawah tanah’. Ngerap menggunakan bahasa Iran gitu, lucu dengarnya he he he Uniknya yang mempelopori budaya musik rap itu adalah putra seorang mullah ternama di Iran, wah..

Episode yang lain, di Irak. Nekad bener nih liputan di Irak.. Bule seperti Diego dan krunya mudah saja menjadi sasaran penculikan atau bahkan pembunuhan. Karenanya selama pengambilan gambar di Irak, Diego dan krunya dikawal empat pengawal bersenjata lengkap. Disini Diego menceritakan susahnya mencari pekerjaan di Irak, dan bahwa pekerjaan yang tersisa hanya dalam jasa keamanan alias bodyguard. Juga segi bisnis yang naik turun seiring bom-bom yang sewaktu-waktu meledak.

-from fb-

Pada episode Don’t Tell My Mother that I’m in Pakistan, Diego mendatangi sebuah madrasah. Ada sekitar 12 ribu madrasah di Pakistan, dan yang dikunjungi Diego ini adalah madrasah tempat Osama Bin Laden dulu menimba ilmu. Banyak dari santri di madrasah ini yang menutup wajahnya saat ‘terkena’ kamera.  Tapi, Diego berhasil mewawancarai pimpinan madrasah.

Kemudian Diego menuju ke suatu salon. Yang istimewa dari salon ini adalah bahwa semua kapster wanitanya merupakan korban KDRT dengan luka di wajah akibat siraman air panas atau air keras. Diego mewawancarai si empunya salon, seorang wanita yang anggun. Dia berjasa menyelamatkan hidup hampir 250 wanita dengan cacat wajah mempihatinkan dengan membawa mereka untuk di operasi di Italia sekaligus mengkursuskan mereka agar memiliki keahlian. Di Pakistan, kejadian seorang suami atau teman menyiram air keras pada istri atau pacar adalah hal yang biasa terjadi. Parahnya tidak ada tindakan hukum terhadap para pelaku.

Diego meneruskan liputannya ke sebuah rumah. Di sini merupakan pabrik yang memproduksi alat-alat dan perlengkapan seks. Gubrak. Di Pakistan gitu loh.. Kata empunya pabrik, usahanya cukup berkembang. Bukan untuk konsumsi masyarakat lokal melainkan diekspor ke Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya. Owaalaah..

Terakhir, Diego mengajak pemirsa ke suatu tempat wisata di kaki gunung Himalaya. Pemilik hotel disana mengaku frustasi. Setelah kejadian ‘9/11’ usahanya kolaps. Kunjungan wisatawan asing turun drastis. Dia dan pelaku bisnis lainnya hinggi kini merasa kesulitan membangun citra Pakistan yang sudah hancur. “Tidak semua wilayah Pakistan itu rawan. Di sini kami menjamin keselamatan tamu-tamu kami. Kami yakinkan disini aman, jauh dari usaha kriminalitas juga pembunuhan,” ujar si pemilik hotel. Duh kasian banget.. 😦

Well itu tadi sedikit contoh kayak apa Don’t Tell My Mother. Untuk lebih jelasnya ya silakan tonton sendiri acaranya di cenel National Geographic. Saat ini sudah memasuki musim tayang ketiga. Selama satu jam kita akan menikmati dan diberi tambahan wawasan mengenai sisi lain negara-negara yang sedang berkonflik. Hepi watching 🙂

Yang menarik lainnya dari acara ini:
-translator tidak terlihat di dalam acara. Jadi yang terlihat Diego seakan bercakap-cakap langsung dengan narasumbernya. Padahal yang tanya pakai bahasa inggris, dijawabnya pakai bahasa lokal he he he… Tapi, tenang tetap ada terjemahannya.
-yang semakin bikin betah nonton, si Diegonya cakep gitu.

Advertisements