They Come Home Too Soon

Italia pantas pulang kepagian. Yah, apa mau dikata, meski saya their numero uno fan tapi tetap harus objektif. Penampilan mereka pada dua laga di penyisihan grup F sama sekali tak menjanjikan. Saat itu harapan Cannavaro cs. akan bisa memperbaiki penampilan masih menggelora dalam hati. Toh penampilan Italia terbiasa telat ‘panas’. Fakta sudah membuktikan itu. Terseok-seok mulai dari babak kualifikasi hingga penyisihan grup di putaran final sudah seperti menjadi kebiasaan. Tapi ya itu, akhirnya mereka bisa terus melaju dan melaju.

Namun, saat melihat penampilan mereka di laga penentuan melawan tim antah berantah Slovakia, saya tertegun (lebai). Penampilan mereka kok sama sekali tak ada perubahan dari dua partai sebelumnya secara semalam partai hidup mati loh! Gak bisa maen cepat, tak terlihat semangat dan determinasi sebagai juara bertahan. Yang ada malah permainan tak berpola, kebingungan di sana di sini, lini belakang mengkuatirkan, lini tengah mati, dan barisan depan mandul. Ya okelah dua gol sempat disarangkan ke gawang lawan. But that’s too late. Dari dua laga sebelumnya Italia juga kecolongan terlebih dulu sebelum akhirnya mampu menyamakan kedudukan. Tetap tak bisa diterima.

Siapa yang pantas disalahkan untuk penampilan Italia yang memalukan seperti itu? Mr Lippi sebagai coach, ataukah para pemain itu? Inilah enaknya jadi seorang suporter. Bisa memaki, mengkritik seenak udele dewe wkwkw.. Media-media di Italia bahkan menyambut kepulangan timnas mereka dengan judul headline super pedas. Tentu tak salah apa yang dilakukan itu. Penampilan Italia memang buruk.

Tapi saya pilih tak ingin menyalahkan siapapun. Bingung juga mau menyalahkan siapa ha ha ha.. Tapi yang jelas, perpaduan ‘kesalahan’ pelatih dan pemainlah yang membuat Italia menjadi seperti ini :”( Dari beberapa komentar yang saya terima intinya seperti ini: Lippi terlalu Juvesentris. Terjebak romantisme masa lalu. Mengandalkan veteran saat dirinya sukses di Juve dan timnas PD 2006 lalu. Hasilnya, regenerasi mentok. Tak ada muka baru yang menjanjikan. Persiapan Italia menjelang PD Afsel 2010 ini terlihat kurang maksimal. Uji coba yang digelar juga terkesan adem ayem. Dan, bla bla bla.. bla yang lain masih banyak lagi, termasuk argumen yang muncul bahwa beberapa pemain pilar cedera juga mempengaruhi performa Italia di PD Afsel 2010 ini.

Ya saya sendiri setuju setuju saja dengan komentar itu. Lini belakang, tanpa kiper sarat pengalaman Gianluigi Buffon tak menjanjikan rasa aman di belakang. Penggantinya, Federico Marchetti, terlihat belum oke. Kakak saya bilang; ni kiper kayaknya ndak bisa ‘terbang’. Hasilnya ya gagal menjaga gawang dengan baik. Sementara ‘koordinator’ barisan belakang, Mr. Cannavaro, sudah lewat masanya. Diajak lari sebentar saja sudah habis nafas:(

Lini tengah sama menyedihkannya. Ketiadaan seorang kreator di posisi ini membuat lini tengah Squadra Azzurra bermain bagai tanpa roh. Serangan yang dibangun sama sekali tak berpola dan kurang menggigit. Dengan barisan depan yang malas, kompletlah nilai minus Italia di Piala Dunia 2010.

Apapun, yang jelas kami tifosi Azzurri harus legowo melihat kenyataan ini. Italia bergabung dengan Prancis sebagai sesama finalis (dan sama-sama pakai kostum biru) PD 2006 yang harus angkat koper dari Afsel. Italia juga meniru jejek Prancis yang gagal di penyisihan grup PD 2002 setelah jadi juara di PD 1998. Tragis memang. But we must take this reality. Saatnya regenerasi, Italia. Saya akan selalu jadi pendukungmu through bad and good times! Buktikan di Euro 2012 yaa.. 🙂

By the way, sangat sedih melihat Italia tersingkir begitu cepat. They just come home too soon. Wajah-wajah pemain, pelatih, dan ofisial yang terlihat shock usai laga melawan Slovakia membuat saya tak tega melihatnya. Hati terasa hancur berkeping-keping he he.. Imbasnya bagiku, Piala Dunia 2010 ini sudah menjadi tak menarik. Seperti tak ada yang dinanti-nantikan lagi gitu. Menjadi penggembira sajalah. Still, Forza Azzurri!!

Advertisements