Boy Meets Girl

Satu lagi chicklit yang asik buat dibaca di kala waktu luang; Boy Meets Girl karangan Meg Cabot. Jaminan mutu dari sisi pengarang lantaran hasil karyanya bertebaran di toko buku-toko buku. Seperti yang saya bilang tadi, Boy Meets Girl cukup asik. Ceritanya ringan namun cukup menghibur tanpa dibumbui adegan-adegan 17 tahun ke atas yang t.e.r.l.a.l.u. Yang paling utama, chicklit ini lumayan lucu, bikin ketawa saat membacanya.

Sama seperti High Society, saya sebelumnya tak mengetahui jika Boy Meets Girl ini masih ada kaitannya dengan chicklit lain dengan pengarang yang sama. Bila High Society berhubungan dengan Playing James, pada Boy Meets Girl ceritanya masih nyambung dengan The Guy Next Door. Hanya saja karakter di The Guy Next Door hanya muncul sekilas saja bak kameo dalam film.

Di chicklit ini diinformasikan bahwa karakter utama The Guy Next Door, Melissa Fuller, akhirnya menikah dengan John Trent. Melissa bahkan tengah mengandung buah hati mereka. Tak banyak adegan melibatkan pasangan tersebut. Kecuali, ternyata, John Trent merupakan adik ipar dari Stacey Hertzog, kakak dari Mitchell Hertzog tokoh utama pria di Boy Meets Girl. Ribet? he he he nggak juga..

Jadi, Mitchell Hertzog adalah anak ketiga dari keluarga pengacara Hertzog. Kakak pertamanya, Stuart, juga seorang pengacara, sementara adik bungsunya yang bernama Janice dan baru berusia 19 tahun mengaku lesbian. Masing-masing dari mereka memiliki karakter sendiri dan diceritakan dengan gaya humor seperti halnya dengan karakter utama cewek dalam Boy Meets Girl, Kate A. Mackenzie.

Kate yang baru setahun bekerja di The New York Journal sebagai personal representative HR terpaksa harus memecat Ida Lopez. Lucunya, Ida dipecat gara-gara tak mau memberi Stuart yang minta tambahan pai yang disuguhkan padanya (?!). Stuart yang statusnya pengacara perusahaan sekaligus tunangan Amy Denise Jenkins, atasan Kate, marah. Padahal Ida Lopez yang bekerja mengurusi segala yang berkaitan dengan makanan di perusahaan itu adalah sosok disenangi oleh sebagian besar karyawan karena makanan kecil buatannya rasanya dinilai sangat enak.

Perang Melawan Bos Tiran

Kate berharap Amy mengurungkan niatnya memecat Ida. Namun apa daya, Amy bukanlah bos yang mau mendengar masukan anak buahnya. Bahkan Amy dipandang Kate dan sahabatnya yang juga sekantor dengannya, Jennifer Sadler, sebagai bos yang luar biasa menjengkelkan. Mereka berdua menjuluki sang bos dengan P.T.K alias Penguasa Tirani Kantor.

Tekanan dari Amy membuat Kate akhirnya memecat Ida. Tenyata Ida tak terima dengan perlakuan bekas perusahaannya itu dengan mengajukan tuntutan. Hal inilah yang mempertemukan Kate dengan Mitchell yang ditugaskan untuk menangani kasus ini. Kali pertama bertemu dengan Kate,

Mitchell sudah tertarik pada Kate. Sayang, ternyata masalah tuntutan Ida ini berujung pada pemecatan Kate oleh Amy. Selain semakin membenci Amy, Kate juga menyalahkan Mitchell.

Sebelum dipecat pun hidup Kate sudah berantakan lantaran baru saja putus dengan Dale Carter, pacarnya selama sepuluh tahun terakhir (!?) serta tak punya tempat tinggal sendiri, dan terpaksa nebeng di rumah Jen. Kate sempat sebal pada Mitchell namun itu tak berlangsung lama karena Mitchell tulus berjuang mengembalikan pekerjaan Kate. Bahkan Kate naksir berat pada Mitchell.

Wah, pokoknya santai abiss membaca chicklit ini. Gaya penulisannya cukup unik karena menggunakan email, instant messages, telepon, surat, bahkan di kertas-kertas berisi catatan pekerjaan sebagai dialog, serupa dengan The Guy Next Door. Kadang ada yang lucu, tapi ada juga sih yang sedikit membosankan. Bagian membosankan itu bisa dilewatkan, dan teruskan saja membacanya, dijamin menghibur. Tak hanya Kate, Jen, dan teman-teman mereka yang seru, ‘perang saudara’ di keluarga Hertzog juga bikin kita tersenyum geli. Tak menyesal membeli chicklit ini dengan harga sepuluh ribu rupiah saja…

 

Pengarang: Meg Cabot
Judul Indonesia: Perang Melawan Tiran
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Indah S. Pratidina
Halaman: 495 lembar
Cetakan kedua, April 2007

Advertisements